blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Cerita Saya dan Setrika Tua

Tinggalkan komentar

Menyetrika… satu tugas domestik yang masuk urutan akhir untuk saya kerjakan. Sepertinya untuk melakukan tugas yang satu ini saya perlu situasi yang kondusif, tenaga yang memadai, serta suasana hati yang okey. Atau mungkin ini hanya deretan alasan saya saja untuk lari dari tanggung jawab pekerjaan ini…

Pertama kali saya mengerjakan tugas menyetrika ketika saya masih di usia SD. Lupa persisnya umur saya berapa ketika itu. Yang pasti waktu itu setiap minggu saya punya tugas untuk menyetrika baju kami sekeluarga. Ada 7 orang di keluarga kami, jadi bisa dibayangkan tingginya tumpukan baju yang harus saya setrika, meski yang jadi prioritas adalah baju seragam sekolah, sarung ayah untuk ke masjid, dan baju untuk pergi-pergi. Baju main tidak saya setrika, cukup dilipat rapi dan simpan di lemari.

Cerita Saya dan Setrika Tua

Photo credit: bukalapak.com

Sebelum menyetrika, saya harus pastikan dulu ada stok arang di rumah. Kenapa? Karena saya menyetrika menggunakan setrika arang. Saya rasa cuma ibu saya yang masih menggunakan setrika arang, para tetangga waktu itu sudah beralih ke setrika listrik.

Menggunakan setrika arang berarti sebelum menyetrika saya harus membakar arang hingga jadi bara api. Arang yang dibeli dari warung dekat rumah saya tuang ke dalam setrika, dikasi minyak tanah sedikit, lalu dibakar. Tunggu beberapa lama hingga api meredup, kemudian arang  dikipas-kipas supaya bara api menyala cukup banyak, persis seperti mau bakar sate. Bila bara api sudah cukup panas, berarti setrika siap digunakan. Ribet ya…

Biasanya pakaian yang lebih dulu saya setrika adalah pakaian yang cukup tebal, karena setrika sedang panas-panasnya. Setelah bara api mengecil dan panas setrika mulai turun, baru saya beralih ke pakaian yang tidak begitu tebal. Di bagian akhir saya bisa menyetrika pakaian yang tipis.

Menyetrika dengan setrika arang berarti saya yang harus menyesuaikan dengan panas bara api. Berbeda ketika menggunakan setrika listrik yang bisa diatur panasnya dan bisa disesuaikan dengan kain yang akan disetrika.

Kadang di tengah menyetrika, bara api mati. Pekerjaan sayapun jadi terhenti. Saya harus kembali membakar arang agar bara api kembali terbentuk dan melanjutkan menyetrika lagi.

Kenapa masih pakai setrika arang? Ini juga jadi pertanyaan saya. Rupanya ibu saya punya pengalaman buruk saat menggunakan setrika listrik. Beliau pernah tersengat listrik ketika sedang menyetrika. Ini yang bikin trauma dan membuat beliau beralih ke setrika arang.

Cerita Saya dan Setrika Tua

Photo credit: sejukelektronik.com

Meski menggunakan setrika arang aman dari bahaya tersengat listrik, seingat saya dulu beberapa kali saya mengalami hal kurang mengenakkan. Karena terburu-buru mengangkat setrika, kadang saya lupa memastikan pengaitnya terkunci, akibatnya ketika setrika saya angkat, posisinya jadi terbuka dan arang serta abu yang ada di dalamnya jatuh berserakan.

Kalau arang yang masih menyala jatuh ke pakaian, bisa bikin bolong dan terbakar. Kalau baranya sudah mati, arang bisa meninggalkan bekas kehitaman di baju, terutama di pakaian dengan warna terang. Ini nih yang bikin repot…

Akhirnya karena usia anak-anak yang semakin besar dan baju-baju makin banyak yang harus disetrika, beberapa tahun kemudian ibu saya membeli setrika listrik. Bila di pagi hari menjelang berangkat sekolah, baju seragam bisa segera disetrika tanpa makan waktu lama dibanding ketika menggunakan setrika arang.

Sekarang entah dimana setrika arang itu. Saya rasa ibu saya menjualnya ke tukang rongsok. Ahhh… kalau saya tahu, tentu akan saya simpan setrika arang itu… Ada banyak kenangan masa kecil saya bersama benda jadul itu 🙂

 

 

Iklan

Penulis: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s