blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Jadi Emak Jaman Now, Apa Saja Tantangannya?

Tinggalkan komentar

jadi emak jaman now

Photo credit: Pixabay.com

Ibu, bunda, umi, mamah, emak, atau apapun sapaannya, menjadi sosok yang sangat berjasa bagi hampir setiap orang. Dari rahim makhluk yang Allah muliakan ini, manusia-manusia baru terlahir dan tumbuh besar dengan kasih sayangnya. Termasuk saya, yang sedari kecil hingga saat ini masih diberi kesempatan menikmati, mendengar, dan merasakan nasihat, bimbingan, dan kasih-sayang ibu saya, termasuk omelan, kebawelan, dan cerewetnya beliau.

Sampai akhirnya kini saya menjalani peran itu. Peran menjadi madrasah pertama bagi anak-anak saya. Baru saya sadari kalau tugas ini tidak gampang. Mengurus anak dalam arti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan mungkin sudah bisa dipenuhi, tapi peran orangtua terutama ibu tidak sebatas itu saja. Anak-anak dan keluarga membutuhkan ibu yang bisa mendidik mereka sesuai dengan zamannya. Menjadi ibu itu tugas mulia, sekaligus banyak tantangannya.

Jadi emak di jaman now memang kompleks tantangannya. Yang dihadapi bukan lagi seputar dapur, sumur, dan kasur seperti peran kebanyakan wanita di masa lalu. Pernah mengikuti seminar parenting Ibu Elly Risman? Saya siy belum pernah, hihihi…. tapi saya sering membaca ulasan tentang materi yang beliau sampaikan dari berbagai sumber di internet. Dan yang saya rasakan adalah seperti diingatkan tentang betapa penting dan beratnya peran orangtua, terlebih ibu, bagi keluarganya.

Ketika emak mulai berinteraksi dengan teknologi dan mulai gaul dengan media sosial, akan terasa persaingan yang muncul di kalangan para emak. Di kalangan emak sendiri, muncul berbagai kubu yang membuat mereka terkotak-kotak dan saling berseberangan. Ada kubu emak bekerja VS emak di rumah, kubu emak lahiran normal VS emak lahiran sesar, kubu emak yang kasi ASI ke bayinya VS emak yang kasi susu formula, kubu emak yang memilih popok sekali pakai untuk anaknya VS emak yang gunakan popok cuci ulang (clodi), dan akan semakin banyak kubu yang bermunculan seiring pertambahan usia anak.

Kalau sudah seperti ini, bagaimana menyikapinya? Hmmm, kalau saya pribadi sih nyantai saja, tidak perlu ikut terbawa emosi dan masuk aktif di perang dingin ala emak-emak ini.

jadi emak jaman now

Photo credit: thumbs.dreamstime.com

Saya memang ibu rumah tangga yang tinggal di rumah, mengurus dua orang anak yang masih kecil-kecil. Tapi ini bukan berarti saya mengharamkan wanita lain yang juga menjadi ibu untuk bekerja di luar rumah. Bila wanita itu lulusan sekolah kedokteran, tentu akan ada banyak orang yang membutuhkan kontribusinya. Bila wanita itu seorang guru, saya lebih prefer seorang wanita yang menjadi guru anak-anak saya di sekolah, seperti halnya saya lebih memilih dilayani oleh customer service wanita atau lebih suka menggunakan ojek wanita.

Merasa sudah menjadi wanita seutuhnya setelah melahirkan secara normal? Menurut saya bukan itu patokannya. Lagi pula, kadang wanita tidak bisa memilih untuk melahirkan secara normal atau sesar. Ada kondisi tertentu yang mengharuskan ia melahirkan melalui bedah sesar meski ada keinginan kuat dari dalam dirinya untuk melahirkan normal.

Ibu yang kasi sufor itu berarti malas dan ga mau capek ngurus anak. Ah, ga gitu juga kali. Pernah dengar istilah insufficient glandular tissue? Wanita dengan kondisi ini memang bermasalah dengan saluran ASI-nya, sehingga tidak bisa memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup untuk bayinya. Padahal si bayi tetap harus menerima makanan, kalau sudah begini, susu formula jadi alternatif supelemen untuk bayi. Jadi pilihan antara ASI atau susu formula bukan semata karena ibu rajin atau malas menyusui.

Belum lagi soal popok yang digunakan anak, para emak bisa saling hantam. Ibu yang menggunakan popok cuci ulang (clodi) menganggap ibu yang menggunakan popok sekali pakai untuk bayinya tidak go green lah, tidak aware dengan pencemaran lingkungan, ga ngerti dengan bahan kimia di popok yang bisa membahayakan anak, dan sebagainya.

jadi emak jaman now

Photo credit: genuineonlinefreejobs.com

Padahal ketika emak di rumah sendirian, bersama bayi dan anak balita, tanpa asistem rumah tangga, suami sering dinas luar kota, dan semua diurus sendirian, kehadiran produk bernama popok sekali pakai tuh ibarat oase di tengah padang pasir. Benda satu ini bisa jadi penyelamat kewarasan emak ketika energi sudah hampir habis.

Intinya beda orang, beda kondisi, beda juga cara menyiasatinya. Yang penting kita ga main nge-judge, langsung menyalahkan, apalagi menganggap diri sendiri paling benar.

Kemudahan untuk emak jaman now menjalani perannya

Sebenarnya ada banyak kemudahan yang bisa diperoleh ketika menjalani peran sebagai ibu di zaman teknologi seperti sekarang ini, setidaknya berdasarkan pengalaman saya.

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu saat baru menikah. Saya lumayan dibikin pusing dengan salah satu kekurangan saya saat itu, yakni tidak bisa masak. Bayangkan bila ini terjadi pada istri di zaman dulu, tentu ia akan sangat merasa malu dan sungkan untuk belajar atau bertanya tentang cara memasak kepada orang lain karena akan muncul anggapan ia tidak becus menjadi istri lantaran tidak bisa memasak.

Tapi saya bisa memanfaatkan teknologi untuk mengatasi masalah ini. Saya bisa browsing berbagai resep masakan sederhana untuk keluarga. Saya bisa bertanya kepada Google cara memasak makanan yang simpel dan cepat tapi enak. Saya bisa buka Youtube untuk tahu lebih rinci tentang proses memasak sebuah masakan. Saya bisa simpan resep yang saya dapat dari Cookpad dan menjadikannya referensi ketika sedang mentok tidak tahu harus masak apa hari ini.

jadi emak jaman now

Photo credit: babyguardian.wordpress.com

Sama halnya ketika saya bingung menata rumah supaya terasa nyaman, saya bisa intip foto-foto di Pinterest atau Instagram untuk mencari ide yang bisa diterapkan di rumah. Di internet saya bisa menemukan tutorial cara membuat mainan untuk anak, aktivitas yang bisa saya lakukan bersama mereka, sampai untuk persiapan tes ulangan anak pun saya cari soal-soal latihannya dari internet.

Sebagai istri yang ikut suami tinggal di kampung halamannya, saya harus berpisah dari keluarga, kerabat, serta teman. Tapi saya tidak terkendala untuk tetap menjalin komunikasi dengan mereka, saya bisa berteman dengan mereka di Facebook, saya bisa ngobrol bersama teman-teman kuliah di group Whatsapp, atau video call dengan Skype bila perlu.

Menjalankan peran sebagai ibu di zaman sekarang juga tidak mematikan kreativitas ibu, meski ketika ia memilih untuk tidak bekerja di luar. Banyak sekali ibu yang sibuk mengurus anak dan suami di rumah tapi masih bisa berjualan online, memasarkan produknya di media sosial, berinteraksi dengan customer sambil main bersama anak, sekaligus tetap bisa menghasilkan.

 

Ibu-ibu rumah tangga yang suka nulis, masih bisa menekuni hobi ini sekaligus mendapat penghasilan. Kalau dulu diary jadi sarana menuangkan curahan hati dalam bentuk tulisan, sekarang para emak bisa menuliskan berbagai pengalamannya di Blogspot, WordPress, atau platform blogging lainnya. Bila tulisan-tulisan yang emak buat bisa menarik pengunjung kembali datang ke blog-nya, tentu ini juga bisa menarik banyak pihak untuk menitipkan tulisan promosi produk di blog. Sebagai kompensasinya, pemilik produk akan memberikan sejumlah fee. Menarik ya.. Emak ga suka nulis? Masih bisa nge-vlog dengan cuap-cuap di depan kamera.

Menjadi content writer juga profesi yang bisa dilakoni para emak tanpa perlu meninggalkan anak-anak di rumah. Biasanya para content writer bekerja secara remote dari rumah, tanpa perlu datang ke kantor. Semakin banyak perusahaan yang membutuhkan jasa content writer untuk membantu mereka memproduksi artikel serta mempublikasikannya di berbagai platform media sosial. Sejauh pengalaman saya, patokan harga untuk artikel yang dibuat juga cukup menjanjikan. Perusahaan start-up sekalipun menawarkan harga yang menarik untuk posisi ini.

Photo credit: thumbs.dreamstime.com

Terlepas dari kegiatan apapun yang digeluti emak, keluarga tetap jadi prioritas. Ketika anak sakit, semua kegiatan tadi harus ditunda. Saat sedang sibuk mengejar deadline tulisan, tapi anak menarik-narik baju saya dan minta ditemani bermain lego, saya harus mengikuti kemauannya dan menunda pekerjaan saya hingga mereka tidur.

Bukannya ini bikin tambah capek, nambah stres juga? Well, kalo kita sudah suka dengan sesuatu, kita akan selalu merasa senang ketika mengerjakannya. Bemain bersama anak tetap jadi hal yang sangat menyenangkan. Begitu juga, meski kurang tidur sekalipun, saya tetap punya semangat untuk menulis karena saya suka dengan aktivitas ini, termasuk menulis untuk mengikuti lomba ini. 🙂

Iklan

Penulis: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s