blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Anencephalus Renggut Nyawa Anakku Sebelum Ku Bertemu Dengannya

8 Komentar

Tak banyak orang yang tahu tentang kisah saya yang satu ini. Selama ini saya memang tidak terlalu terbuka tentang apa yang terjadi. Tapi kali ini saya coba menceritakannya kembali dengan harapan semoga ada manfaat yang bisa diambil, setidaknya memberi kekuatan kepada para ibu di luar sana yang mengalami hal serupa.

Tahun 2009, tak lama setelah menikah, saya hamil. Bahagia sudah pasti, karena bersyukur kami tak perlu menunggu lama untuk mendapat titipan dari-Nya. Meski senang, kehamilan yang saya alami saat itu terasa berat sekali, mungkin karena itu adalah pengalaman pertama. Morning sickness masih saya rasakan sepanjang kehamilan. Makan sedikit, langsung saya muntahkan, badan terasa tidak bertenaga. Sampai saya sempat panik ketika keluar bercak darah. Bidan yang memeriksa saya menyarankan untuk bedrest.

Sampai kehamilan 5 bulan, sudah 2 kali saya menjalani USG, menurut dokter kandungan saya baik, tak ada masalah. Saya lega, karena meski masih sesekali mual-muntah dan sempat keluar bercak darah, calon bayi saya baik-baik saja.

Sampai pada malam itu, saya dan suami berangkat untuk kontrol kandungan sekaligus USG. Setelah mendaftar dan menunggu beberapa lama, nama saya dipanggil untuk masuk ruang periksa. Dokter mengamati hasil USG, sesaat kemudian ia berbisik-bisik dengang bidan yang juga ada di ruangan itu. Saya mulai menaruh curiga, lalu memberanikan diri untuk bertanya, “Bagaimana, Dok, kehamilan saya baik-baik saja kan?”

“Sabar ya Bu, dari hasil USG sepertinya ada masalah pada kepala janin.” Begitu kira-kira jawaban dari dokter. Ya Allah… Ada apa dengan bayi saya? Selebihnya, saya tidak bisa lagi menangkap kata-kata dokter kepada kami. Pikiran saya langsung kacau, bingung, sedih, campur-aduk bersama tangisan saya di ruangan itu.

Dokter menenangkan saya dengan mengatakan mungkin saja diagnosanya keliru. Saya diberi rujukan ke RSCM untuk USG 4 dimensi. Sepanjang perjalanan pulang, tubuh saya terasa lunglai. Rasanya ini seperti mimpi buruk dan saya berharap kalau itu semua hanya mimpi, tapi ini nyata terjadi.

Sebelum ke RSCM saya mencari-cari info tentang prosedur USG 4 dimensi. Beberapa hari kemudian saya menuju RSCM meski merasa tidak siap. Saya takut kalau diagnosa itu benar. Tapi saya harus memastikan kondisi bayi saya.

“Ga bisa bertahan ini, Bu. Diterminasi saja..” Sesingkat itu komentar dokter yang memeriksa saya tapi seperti sambaran petir bagi saya. Kembali merasa bingung, takut, sedih, dan entah perasaan apa lagi yang hinggap di hati saya saat itu. Sejurus saya merasa benci sekali dengan dokter yang memeriksa saya. Terminasi… gampang sekali dokter itu bicara, bahkan tanpa berusaha menenangkan saya yang menangis di depannya.

Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Wajah saya sudah banjir air mata. Dari penjelasan dokter, bayi saya mengalami anencephalus. Konstruksi kepalanya tidak terbentuk sempurna. Rata-rata bayi dengan kondisi ini tidak bisa bertahan atau digugurkan saat hamil.

Sulit buat saya untuk menggugurkan kandungan ini, apalagi kehamilan saya sudah masuk 6 bulan, sudah ada makhluk bernyawa di perut saya, dan saya harus membunuhnya?

Saya berkonsultasi ke beberapa dokter kandungan, kesemuanya merekomendasikan hal yang sama. Tak satupun yang mendukung saya untuk melanjutkan kehamilan ini. Saya putuskan untuk pindah ke kampung halaman suami, salah-satu alasannya karena saya mendapat informasi dokter yang bisa membantu saya hingga si bayi lahir.

dr. H. Jundan Hidayat, Sp.OG, tiap kali saya kontrol kehamilan, beliau ingatkan saya untuk mempersiapkan diri dengan fisik yang kuat menjelang persalinan. Bayi dengan anencephalus biasanya lahir melewati tanggal perkiraan. Konstruksi kepala yang tidak sempurna membuat bayi sulit mendorong keluar. Dan biasanya juga proses kelahiran dibantu dengan induksi. “Harus tahan sakit ya Bu, nanti jangan sampai minta sesar,” begitu pesan dokter.

Saya harus tahan sakit, tapi bukannya melahirkan itu sakit. Katanya kalau diinduksi sakitnya jadi berlipat-lipat. Tapi bagaimana saya tahu sakit yang berlipat-lipat sedangkan ini kehamilan pertama saya. Ah, sudahlah setidaknya saya tahu kalau rasa sakit itu akan datang dan saya harus persiapkan diri.

Saya lewati hari-hari saya dengan air mata, selepas sholat, do’a saya semoga bayi saya baik-baik saja, lahir sehat tanpa cacat. Tapi kemudian saya mulai berusaha berserah diri pada-Nya. Semua sudah jadi ketentuannya, memang saya ingin bayi saya lahir sempurna, tapi saya akan ikhlas bila Allah berkehendak lain. Ya, saya belajar berdamai dengan kondisi itu. Saya tetap makan sehat, rutin jalan pagi, cari informasi tentang persalinan, dan berdo’a. Semoga saya bisa menerima apa yang terjadi nanti, baik yang baik maupun yang buruk.

Sudah lewat 1 minggu dari HPL, saya berangkat ke RS Islam Muhammadiyah Kendal tanpa ada tanda persalinan. Dokter menyarankan saya untuk menuju rumah sakit dan bersiap untuk persalinan dengan induksi. Bila menunggu lebih lama, bayi akan bertambah besar dan resiko sesar meningkat.

Dari yang awalnya saya masih bisa berjalan-jalan, lalu duduk, dan berbaring, rasa sakit perlahan meningkat. 26 Januari 2010, setelah sekitar 20 jam menahan sakit, akhirnya bayi saya lahir. Sempat saya dengar tangisannya, tak lama, karena perawat membawa bayi saya ke ruang lain.

Saya tidak sekamar dengan bayi saya, persalinan yang berat membuat saya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Saya bahkan tidak bisa ke kamar mandi sendiri. Malam itu saya masih merasakan sakit pasca melahirkan. Tapi saya ingin sekali melihat putri saya.

Keesokan harinya, suami saya berbisik di telinga saya, putri kecil saya sudah tiada.

Kembali saya menangis, tapi bukan karena saya tidak menerima yang terjadi, saya sudah ikhlas. Beberapa bulan saya persiapkan diri untuk kuat menghadapi ini dan akhirnya inilah waktunya.

Aisha Izzatul Amalia, nama indah untuk putri cantik saya, meski saya tak sempat melihatnya. Semoga Allah pertemukan kami di syurga. Aaamiin…

 

Tulisan ini disertakan dalam #GADianOnasis

Iklan

Penulis: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

8 thoughts on “Anencephalus Renggut Nyawa Anakku Sebelum Ku Bertemu Dengannya

  1. terima kasih sudah ikut GA saya ya mbak…

    in sha Allah almarhum ananda sudah tenang dan menjadi syafaat bagi mbak sekeluarga. amin

    Suka

  2. Terimakasih sharingnya Mbak. Nama yg indah u putrinya. Semoga bertemu di surga…

    Suka

  3. nama yang indah, al fatihah untuk dek aisha izzsatul amalia. *peluk

    Suka

  4. Namanya indah sekali 🙂 insya Allah kelak menjadi syafaat untukmu, mbak 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s