blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau Dibanding Rumput Sendiri

6 Komentar

Sore itu, selesai memandikan anak-anak, muncul notifikasi whatsapp dari seorang teman. “Isma, lagi sibuk ga, mo curhat dong.” Ihiyyy… saya langsung berasa seperti Mamah Dedeh yang sering memberi tausiyah dan ceramah. Setelah basa-basi, obrolan kami berlanjut, teman saya mulai mengeluarkan unek-uneknya.

 

Jadi di kantor teman saya ini ada beberapa rekan kerja yang kerjanya santai sekali, tapi saat gajian mereka menerima tambahan insentif. Di sisi lain teman saya merasa sudah bekerja dengan sangat rajin, tapi ternyata ia tidak mendapat apa yang diterima rekan kerjanya. Pasti berasa nyesek ya klo ada di posisi teman saya ini. I know how it feels, karena dulu waktu masih bekerja saya juga pernah mengalami hal ini.

 

Dulu saya suka nyinyir dengan orang-orang seperti ini. Ihhh enak banget ya, kerjanya santai, gaji gede, bla.. bla.. bla. Trus harus gimana dong? Merasa dongkol sendiri.. mau protes kayanya ga mungkin, keluar dari kerjaan dan cari yang lain? Ah, belum tentu bisa dapat kerjaan yang lebih bagus. Sekarang saya pribadi lebih memilih untuk mengubah cara berpikir saja. Daripada terus-menerus dilingkupi perasaan negatif, kan lebih baik barbaik sangka.

 

Okelah, mungkin sekilas kondisi mereka lebih enak. Mereka mendapat gaji lebih besar dengan kerja yang malas-malasan. Mereka tidak mengeluarkan energi banyak untuk mendapat uang. Tapi siapa yang tahu kehidupan yang mereka jalani. Bukan tak mungkin uang yang kelihatannya lebih banyak itu ternyata habis untuk biaya pengobatan keluarga yang sakit-sakitan, membiayai sekolah anak karena jadi single parent, ato menuruti kemauan pasangan yang menuntut macam-macam.

 

Sedangkan kita dengan gaji yang lebih sedikit nominalnya, tapi anak-anak di rumah sehat dan ceria, suami gak bikin ngelus dada, tempat tinggal sudah ada, kurang apa lagi coba… ? Jadi intinya sih bersyukur, untuk hal seperti ini tak perlu menatap langit yang punya banyak lapisan lagi di atasnya. Akan lebih bijak bila kita menatap ke bawah, melihat orang yang ternyata mencari makan untuk dimakan hari itu juga. Yang tak pasti apakah bisa pulang membawa uang untuk anak-istri, yang bahkan tak tahu akan pulang kemana karena tak ada tempat tinggal.

 

Lagi pula, bukankah selalu melihat ke atas membuat kita jadi kurang bersyukur. Merasa selalu kurang dan akhirnya protes. Protes pada yang Maha Pemberi, padahal hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Obrolan dengan teman saya ini sekaligus jadi pengingat bagi saya. Kadang sayapun lupa dengan banyaknya kemudahan yang saya peroleh, yang diingat-ingat selalu bagian susahnya 

Iklan

Penulis: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

6 thoughts on “Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau Dibanding Rumput Sendiri

  1. intinya bersyukur yah Mbak 🙂

    Suka

  2. Memang gak boleh banget mengukur diri dg orang lain. Fokus dg diri sendiri saja.

    Suka

  3. Eiyaa.. kadang mata kita liatnya ke tetangga muluk. Suka lupa bersyukur dan merawat rumput di halaman sendiri.
    Tetap harus mengingatkan diri sendiri ya mba, banyak oranag yang jauh lebih kurang beruntung.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s