blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Wirausaha…? Masih takuuutt…!?

10 Komentar

946051_635581943158994_364924955_n

Jujur, waktu kecil saya tidak pernah berpikir atau tertarik dengan dunia wirausaha. Padahal orang-orang terdekat di keluarga banyak yang menekuninya. Ayah saya dulu adalah seorang pedagang bunga di pasar Rawabelong. Ibu saya, di sela kesibukannya mengurus rumah tangga, berjualan aneka macam kue dan menerima pesanan makanan ringan untuk berbagai acara. Paman saya juga ada yang berbisnis konveksi dan tanaman hias.

 

Tapi yang saya rasakan justru orangtua lebih mengarahkan anak-anaknya untuk jadi orang gajian. Salah-satu alasannya karena jika berwirausaha penghasilan yang diperoleh tidak tentu jumlahnya. Tidak seperti orang yang bekerja sebagai pegawai yang juga menerima berbagai fasilitas dari tempat bekerja.

 

Pola pikir ini cukup lama tertanam di diri saya. Setelah lulus kuliah, saya lebih memilih menjadi pegawai daripada berwirausaha. Tapi suami saya seorang wirausahawan. Ia membuka usaha rental komputer, jasa pengetikan, dan warnet. Bisnis ini ia rintis mulai dari nol. Kebalikan dari pandangan saya, suami lebih memilih untuk berwirausaha. Sebelumnya ia pernah bekerja sebagai pegawai tapi memutuskan resign karena merasa tidak cocok menjadi orang suruhan. Menurutnya, lebih baik jadi bos meski usahanya kecil daripada bekerja di perusahaan besar tapi tetap jadi orang gajian.

 

Suamipun mendoktrin saya untuk berani buka usaha. Waktu awal mengontrak rumah dan belum memiliki anak, karena dorongan suami saya memberanikan diri untuk memulai. Saya membuka tempat kursus Bahasa Inggris dan komputer bernama Rumah Belajar Aisha. Bukan yang berskala besar, saya hanya mengubah ruang tamu di rumah kontrakan menjadi ruang kelas. Konsepnya duduk lesehan dengan papan tulis dan meja ukuran besar untuk menulis.

 

Modul belajarnya saya susun sendiri, disesuaikan dengan kurikulum di sekolah. Untuk pemasarannya saya membuat brosur yang disebarkan ke rumah-rumah. Saya juga menitipkan brosur bila kebetulan makan di rumah makan yang lokasinya tak jauh dari rumah. Harapan saya, orang yang makan di sana melihat brosur saya dan tertarik untuk mendaftar. Di depan rumah saya pasang banner besar untuk menarik perhatian orang yang lewat. Beberapa anak yang tinggal di sekitar rumah mulai datang untuk belajar. Saya tidak mematok harga tinggi untuk biaya kursusnya karena yang penting mencari customers lebih dulu.

 

Tapi rupanya usaha ini menemukan kendala. Jumah anak yang belajar tidak bertambah. Salah-satu penyebabnya karena para guru membuka kursus untuk murid-muridnya. Tentu para siswa lebih memilih belajar bersama guru mereka karena materi yang diajarkan hingga soal-soal yang dibahas biasanya sama seperti yang dibahas di sekolah.

 

Belum sempat saya menemukan cara untuk mengatasi hal ini, saya keburu melahirkan dan pindah lokasi tempat tinggal. Baiklah, sepertinya usaha pertama saya ini belum berhasil. Tapi mental saya lumayan ciut untuk buka usaha lagi. Hadeeehh…. padahal saya tahu, wajar saja yang namanya berwirausaha mengalami kerugian atau kemandekan apalagi saya pemain baru di dunia wirausaha.

 

Suami masih tetap menyemangati saya untuk buka usaha lagi, tidak mesti tempat kursus seperti yang lalu. Sebenarnya kepikiran untuk bikin daycare. Di perumahan tempat saya tinggal banyak ibu bekerja. Lumayan sering saya mendengar mereka kesulitan mencari pengasuh untuk anak. Bila saya buka daycare, anak-anak mereka bisa bermain sekaligus belajar di tempat saya. Ada juga rencana untuk buka usaha kuliner karena saya hobi masak dan suka bereksperimen di dapur.

 

Tapiiii… lagi-lagi saya bukan tipe risk taker. Belum apa-apa saya sudah mikir, “Nanti kalo rugi gimana.. bla… bla… bla..” Ini yang membuat semua rencana itu tinggal rencana, eksekusinya entahlah. Aaaarghh… gimana sih ya cara mengatasi ketakutan untuk berwirausaha?

 

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Semua Tentang Wirausaha yang diselenggarakan oleh Suzie Icus dan Siswa Wirausaha”

Iklan

Penulis: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

10 thoughts on “Wirausaha…? Masih takuuutt…!?

  1. Saya selalu kagum sama org yg memutuskan berwirausaha. Ayo mbak, semangat berwirausaha! Saya sebenarnya juga kepengen tapi modal dan waktu blm ada hihihi.

    Suka

  2. Aku juga dulu berkali-kali bikin usaha mbak…tapi berkali-kali berhenti karena merugi..mungkin karena aku juga kurang gigih sih..

    Suka

  3. Saya apa bisa dibilang wirausaha ya? Jualan buah dipasar tapi masih ngikut kebijakan orang tua ha ha ha…..kan usaha warisan he he he…..

    Suka

  4. Jangan menyeraaahh mbaa, ayo bangkit lagii 😉

    Suka

  5. yuk mb semangat wirausaha lagii
    makasih ya udah ikutan GA nya:)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s