blognyaismawati

tempat melepas jenuh dan menyalurkan hobi

Ada Mpok Ita, Lariii…!

Tinggalkan komentar

Semasa SD, saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Saya tidak sendirian, banyak teman dan siswa yang bersekolah di tempat yang sama juga berjalan kaki. Waktu yang saya butuhkan untuk tiba di sekolah sekitar 20 menit. Saya melewati jalan yang lumayan ramai dengan kendaraan. Di kanan-kiri jalan kebanyakan rumah-rumah besar dengan pagar tinggi.

 

Ada beberapa kejadian horor saat berangkat ke sekolah yang masih bikin saya takut sampe sekarang. Adalah sesosok wanita tua, berkain panjang dan berkebaya, selendang panjang yang menutupi sebagian rambutnya tak pernah lepas dari kepalanya. Wajahnya sudah penuh keriput, tapi tebalnya bedak yang ia gunakan dan warna gincu yang merah mencolok membuat ia terlihat menyeramkan bagi saya saat itu. Orang-orang memanggilnya Mpok Ita. Menurut cerita yang saya dengar, Mpok Ita mengalami gangguan jiwa lantaran ditinggal sang suami, entah untuk menikah lagi atau karena alasan lain.

5718809332_ceca4ee05d_m

Yang menjadi kebiasaan Mpok Ita adalah melewati rute yang sama seperti yang kami lewati ketika berangkat sekolah. Kadang ke arah yang sama, kadang berlawanan arah. Suatu hari saya sedang berjalan santai bersama beberapa teman menuju sekolah. Dari kejauhan beberapa anak berlari di belakang kami sambil berteriak, “Ada Mpok Ita, lariii!” Ketika menoleh ke belakang saya melihat Mpok Ita sedang berjalan cepat menuju kami. Seorang teman langsung menarik tangan saya, kami berlari menjauh.

 

Kalau sudah dikejar-kejar, saya dan teman-teman tak punya pilihan lain kecuali berlari sekencang-kencangnya. Tak mungkin berlindung di salah-satu rumah yang ada di kanan-kiri jalan karena rata-rata pagarnya tinggi dan tertutup. Kadang ada juga orang dewasa yang kebetulan lewat dan menghalangi Mpok Ita mengejar kami, tapi tidak setiap hari pertolongan itu datang.

 

Di kesempatan lain, juga di pagi hari saat berangkat sekolah. Kami berjalan kaki berkelompok, lalu seorang kakak kelas berbisik ke kami, “Ssst, di seberang jalan ada Mpok Ita, ga usah lari ya, kita pura-pura ga liat dia supaya ga dikejar,” begitu pesannya. Kamipun menurut, karena berada di sisi jalan yang berlawanan, Mpok Ita tak punya kesempatan untuk mengejar kami, lagi pula saat itu banyak kendaraan yang lalu-lalang. Pffuuuhhh… kali ini kami selamat dari kejarannya.
Di hari yang berbeda, salah-satu anak usil dan mengambil batu kerikil kemudian melemparkannya ke arah Mpok Ita. Wanita tua itu marah, ia mengambil batu dan membalas melempari tak hanya si anak usil, tapi saya dan teman-teman yang tidak tahu apa-apa. Duh kejadian itu bikin saya kesulitan tidur loh, malamnya saya bermimpi dikejar-kejar Mpok Ita.

 

Sampai sekarang ada rasa takut kalau melihat orang gila berkeliaran di jalan. Kadang saya bertanya-tanya apakah si orang gila tidak punya keluarga sampai-sampai dibiarkan pergi kemana-mana tanpa didampingi. Seharusnya orang yang waras menyadari bahaya yang ditimbulkan bukan hanya bagi orang lain tapi juga bagi si penderita gangguan jiwa sendiri.

 

Hmm, sempet bikin trauma nih kejadian bertemu orang gila semasa saya SD dulu. Menurut saya ada beberapa hal yang bisa saya lakukan ketika bertemu atau berpapasan dengan orang gila. Pertama, pura-pura tidak lihat. Asalkan jarak saya dan si orang gila tidak terlalu dekat, misalnya saya di sisi jalan sebelah kiri dan dia di sisi kanan jalan, masih bisa saya pura-pura tidak lihat. Tapi kalau kami ada di sisi jalan yang sama dan menuju ke arah yang berlawanan, saya perlu gunakan cara lain.

 

Cara kedua, cari jalan lain. Ini langkah paling aman menurut saya. Daripada berpapasan dengan orang gila, lebih baik saya lewat jalan lain. Cuma masalahnya jalan alternatif bisa lebih jauh dan makan waktu, apalagi kalau saya sedang terburu-buru. Cara ketiga, lari. Langkah ini sebagai pilihan terakhir saja. Bukan apa-apa, kalau saya lari jangan-jangan si orang gila malah terpancing untuk lari juga dan mengejar saya. Lebih parah lagi kan kalau dia mengejar saya sambil memegang batu atau senjata tajam.. Hiiiiiii takut…!

 

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis ”

 

 

1

Iklan

Penulis: Ismawati

Ibu dari dua anak, suka menulis dan belajar masak tapi takut sekali menjadi pikun. Buat saya menulis bukan cuma hobi tapi juga senjata melawan kepikunan :) Semoga apa yang saya tulis ada manfaatnya buat para tamu yang mampir ke sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s